Inilah langkah-langkah kami di MIA
SEBUAH KESAKSIAN
Di era globalisasi dan
modernisasi yang acap kali didengungkan di masyarakat, banyak dampak yang
ditimbulkan disamping sisi baik kemajuan. Diakui atau tidak kemajuan zaman
memberikan banyak kemudahan dalam kehidupan manusia, namun dampak negatif yang
ditimbulkan tidak kalah dasyatnya, kemerosotan moral dan etika masyarakat
menjadikan pesantren bagaikan daun pepohonan yang mengeluarkan oksigen untuk melindungi udara dari pencemaran udara.
Kita
perlu mengacungkan jempol kepada PP MIA karena di era seperti ini MIA masih
mampu berdiri tegak dengan eksistensinya, peka dan mempu mengidentifikasikan
setiap arus perubahan tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisonal. Di sinilah para
santri ditantang untuk tanggap terhadap situasi dan kondisi yang dihadapi,
harus mampu menvisualisasikan nilai-nilai ala pesantren kedalam kemasan
modernisasi tanpa harus kehilangan jati diri. Sebagai santri kita harus dapat
mengoptimalkan apa yang kita peroleh di pesantren guna menghadapi setiap
permasalahan yang muncul, menampung aspirasi yang berkembang ditengah-tengah
masyarakat. Para santri harus pula mampu
menumbuhkan akhlaqul karimah di tengah dinamika kehidupan di segala lapisan
masyarakat.
Permasalahannya, apakah kita mampu mengamalkan segala
ilmu yang kta peroleh ketika kita di pesantren, ditengah-tengah kemajemukan
masyarakat dengan segala permasalahannya. Inilah kelak yang menjadi tugas serta
tanggung jawab kita terhadap ilmu yang kita peroleh, di sinilah bentuk
pengamalan ilmu kita dinilai, mampukah kita merefleksikan nilai-nilai
pesantren di tengah kehidupan masyarakat insya Allah kita bisa.
Ketika mulai melangkah....
Di
Madrasah MIA pendidikan ibtidaiyah dimulai di kelas II karena pada umumnya
santri baru adalah tamatan TPQ yang sudah bisa membaca dan menulis Arab.
Pelajaran yang diberikan di kelas ini meliputi Hidfayatus-Sibyan, Nadhom
Mathtab, Tauhid Jawan, Alala dan untuk fan fiqh dikenalkan mabadi fiqh juz
awal. Ustadz dikelas ini terenal super sabar dan telaten mengingat anak
didiknya yang masih bocah.
Di
kelas III materi pun terus bertambah untuk fan fiqh materi yang diajarkan
adalah fiqh juz tsani, tuhfatul athfal untuk fan tajwid, Akidatul ‘Awam untuk
fan tauhid. Fan nahwu bepegangan pada kitab Nahwu Jawan dan berbagai
petuah di berikan melalui Akhlaq Libanaina Awal.
Untuk
mempermudah koordinmasi yang disebabkan membludaknya santri, mulai kelas IV di
bagi menjadi dua lokal dengan memisahkan santri putra dan putri. Pelajaran yang
diberikanpun mulai kompleks antara lain Qoidah Natsar untuk fan shorof Qowaidul
I’lal dan Aj-Jurumiyyah untuk fan nahwu Akhaq Lilbanaina juz
II dan fiqh berpedoman pada Mabadi Fiqh juz III.
Tahun terus berlalu hingga menginjak kelas V. Ruwet, mumet dan
jlimet adalah santapan rutin dalam memehami setiap pelajaran. Fiqh menggunakan Mabadi
Fiqh juz IV dan Risalatul Makhid. Pelajaran lainnya adalah Tasrif
Istilakhi, Awamil Jurjani, Matn Bina’, Tadribul I’rob, Qowaidul Shorfiyah dan
Khoridatul Bahiyah. Di kelas ini kebanyakan ustadz yang mengajar adalah
alumni MIA.
Menapak
di akhir ibtidaiyah adalah kelas VI dengan materi pelajaran pokoknya kitab Imrithy,
Nadhom Maqsud, Tasrif Lughowi dan fan fiqh berpedoman pada kitab
Sulam At-Taufiq. Tak terasa sepertiga perjalanan terlewati dan kita mulai
menapak kejenjang yang lebih tinggi meninggalkan gerbang Ibtidaiyah.
Ketika Kita
Berada Di Tengah ……
Jenjang Ibtidaiyah telah kita lewati bukan berarti
langkah kita terhenti, masih ada jenjang yang lebih menantang yaitu jenjang
Tsanawiyyah. Jenjang ini terbagi menjadi tiga tingkatan. Ciri khas jenjang ini
adalah alunan nadhom karya spektakuler Abu Abdillah Muhammad Jamaluddin bin
Abdillah bin Malik ath-Thoi al Jayany al Andalusiy (597-672) yang terangkum
dalam Alfiyah Ibnu Malik, menggema. 1000 bait yang menjadi lagu
wajib disetiap malam. Merupakan suatu kebanggaan kalau kita bisa menghafalnya….
Di kelas I Tsanawiyah, pelajaran yang diberikan
selain Alfiyah Ibnu Malik adalah Bulughul Maram
untuk fan Hadits dan Fathul Qorib untuk fan Fiqh. Para ustadz yang
menggembleng antara lain Bapak Ahmad Kholil mengajar Alfiyah kelas putri, Bapak
H. Miftahudin Yasin mengajar Alfiyah dan Fathul Qorib pada kelas putra
dan bapak Sugeng Fatah (alumni MIA asal Pacitan) di kelas putri, Bapak H. Abdul
Choliq mengajar Bulughul Maram pada kelas putri dan pada kelas putra
diajar oleh Bapak Zainuddin. Di kelas I ini Alfiyah harus bisa memenuhi target
minimal 500 nadhom, karena sudah menjadi tradisi Alfiyah diselesaikan dalam dua
tahun. Untuk pemahaman lebih dalam, para santri melakukan musyawarah.
Di kelas II tsanawiyah, materi yang diajarkan adalah
lanjutan dari kelas satu. Pada umumnya santri lebih terfokus pada acara hataman
Alfiyah yang setiap tahun diadakan. Biasanya acara ini diselenggarakan
bersamaan dengan haflah akhirissanah di awal bulan Sya’ban dengan sistem
Muhafadhoh atau hafalan. Selain menjadi agenda rutin, ini adalah peringatan
paling meriah setiap tahunnya.
Di kelas III stanawiyah, berhubung terbatasnya ruang
kelas dan ustadz yang mengajar maka mulai digabung antara kelas putra dan
putri. Alunan alfiyah berganti, bait-bait Faroidul Bahiyah yang
merupakan kaidah-kaidah Fiqh mustahiqnya adalah Bapak Aminuddin Sofwan
(Mojosari) yang merupakan salah satu tamatan terbaik
P.P. Salafiyah Syafi’iyah Wonokromo Gondang Tulungagung. Ustadz-ustadz mulai kelas ini adalah guru-guru senior yang memiliki segudang keilmuan dan tamatan dari pondok-pondok pesantren ternama. Untuk fan ilmu Mantiq
mengacu pada kitab Sulam Munawarak yang dipegang oleh Bapak Drs. H. Hasyim
Nawawi SH. Msi (Trenggalek) dan Juharul Maknun fan balaghoh dipegang oleh Bapak Ahmad
Kholil (Jarakan Gondang).
Saat langkah kaki berada di ujung perjalnan....
Memasuki kurun Aliyah jumlah santri menurun drastis
dan mungkin menyisakan seper empat dari total yang ada. Hal ini biasanya
terjadi setelah khataman Alfiyah, ada yang melanjutkan ke pendidikan umum
(kuliah) ada pula yang boyong dan tidak sedikit pula dari teman-teman yang
melangsungkan menikah. Di awal langkah kami di Aliyah terjadi perubahan
kurikulum. Hal ini disebabkan madrasah memang belum ada target sampai Aliyah,
sehingga pelajaran yang diberikanpun tidak sama dengan kurikulum madrasah lain
yang sejajar di awal kelas I Aliyah. Adapun pelajarannya adalah Jauharul Maknun kelanjutan dari kelas III Tsanawi, Iddatul Farid
oleh Munawir (mojosari) dan Baikunniyah yang merupakan fan ilmu Hadist oleh bapak
H. Miftahudin Yasin.
Waktu beranjak menapak di kelas II Aliyah. Langkah
untuk mempertahankan keistiqomahan semakin berat sihingga di jenjang ini
terjadi terjadi keragu-raguan diantara kami antara melanjutkan sekolah atau
berhenti sampai disini. Ini dikarenakan jumlah kami yang semakin sedikit dan
belum adanya kurikulum yang pasti. Maka munculah kebijakan dari kepala madrasah
dengan menentukan mata pelajaran, sehingga kami bergabung dengan kakak-kakak
kelas kami bertekat untuk tetap bersekolah. Adapun pelajaran yang kami terima
adalah kitb yang membahas etika beribadah dan tasawuf yaitu Salalimul Fudlola’ oleh bapak Nashikhudin Alwie, kitab Bidayah al Hidayah karangan Imam al-Ghozali oleh bapak Sutoyo (Wonokromo) dan
kitab yang menerangkan kesesatan-kesesatan kaum Wahabi yang teramkum
dalam kitab Fajar Shodiq oleh Bapak Ahmad Mujahiddin.
Di
akhir tahun 2005 langkah kami merupakan menuju tangga III Aliyah semakin berat
namun kami bertekat untuk tetap mencapai puncak tangga. Pada awal tahun jumlah
kami sebanyak sembilan santri yaitu Abdul Hanif (Bojonegoro), Suprapto
(Trenggalek), Rohmat (Tulungagung)dan ditambah santri putri, Nurul Hasanah,
Yuli Astuti, Urifah, Istiqomah, Isti’laliyah Zulfa yang kemuanya santri nduduk.
Adapun pelajaran yang kami terima cukup beragam mulai Salalimul Fudlola’,
Kifayatul ‘awam, Itmamu Diroya (fan Tafsir). Warokot (fan Ushul Fiqh) dan
kitab Tsamrotul Khajiniyah karya DR. KH. Sahal Mahfudz Pati. Di
kelas ini satu teman kami Boyong yaitu kang A. Hanif sehingga kami tinggal
delapan orang, namun di tengah tahun kang Abdurmerrohman masuk sehingga jumlah
kami kembali sembilan orang yang terkenal dengan istilah “santri songo”.
Semangat kami dikelas ini semakin meningkat karena dalam belajar sering dibuat
sistem musyawarah. Ustadz yang mengajar kami adalah duet serasi yaitu Bapak
Nasikhudin Alwi dan Bapak Samsul Umam.
Kelas
akhir kita memasuki tahun 2006, ada perasan bangga haru dan perihatin serta
berbagai macam emosi bercampur aduk, sebab perjalanan telah tertempuh, walaupun
tanggungjawab ilmu ada di pundak kita, bangga karena di 12 tahun perjalanan
madrasah MIA kami adalah tamatan aliyah pertama (pendidikan perdana) namun
adapula keperihatinan didada karena hanya dua orang saja yang merupakan santri
pondok sedangkan yang lain adalah santri duduk.
Fenomena
“ tamatan” bagi kami merupakan satu sejarah hidup yang memiliki sejuta
makna, adalah selesainya satu babak manis dalam sejarah hidup kami. Disinilah
segala rasa campur aduk ada perasaan bungah, gamang, haru dan juga was-was.
Ekspresi bungah mungkin lebih berperan mengingat lamanya waktu mengais ilmu.
Tetapi rasa gamang dan was-was menyergap, saat terlukis penyesalan kenapa dulu
tidak rajin dan sungguh-sungguh sehingga saat lepas dari aliyah merasa ilmu
kami masih sangat minim.
Terlepas
dari hingar bingar akhir aliyah, kita harus kembali memahami dan mencerna serta
mengoreksi perjalanan dimasa lalu, agar kita lebih matang dalam merencanakan
perjalanan di masa yang akan datang. Semua itu tidaklah lepas dari bimbingan
pengasuh, bapak ustadz, Bapak Musthiq serta semua rekan warga kela tiga aliyah
periode 2006 yang selalu dahaga akan tetesan embun berkah, serta semua pihak
yang mendukung dan menyokong program kelas
akhir di Madrasah Ma’hadul Ilmi Wal Amal Tulungagung.
Tulungagung, 2006
Komentar
Posting Komentar