Meraih kecintaan Allah dengan jalan Taubat.

Telah sama-sama ketahui bahwa Allah mencntai orang-oran yang bertaubat sebagimana firman-Nya dalam surat al-Baqarah ayat 222:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
 yang artinya “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.”  
Ayat tersebut sudah jamak kita baca dan kita dengarkan. Namun, mungkin yang menjadi pertanyaan kita adalah seberapa kadar kesenangan Allah terhadap hamba-Nya yang bertaubat. Apakah sebesar dengan senangnya Allah terhadap orang ibadah tertentu dengan dengan jumlah tertentu, misalkan sholat, puasa atau Haji yang membutuhkan banyak biaya? Untuk menjawab itu kita baca dulu cerita berikut sebagai ilustrasi.
Suatu hari ada seseorang yang melakukan perjalan jauh yang mengharuskannya melintasi padang pasir yang kering dan panas dengan mengendarai kuda. Karena kelelahan beristirahatlah dia di bawah sebuah pohon. Namun, suatu hal yang tidak dia inginkan telah terjadi, setelah dia terbangun dari tidur, kuda dengan beberapa bekal makanan yang dia ikatkan diatas punggung kuda telah lenyap dari hadapannya. Mencarilah si Musafir tadi kesana-kemari dari segala arah hingga dia lelah. Akan tetapi uasahanya sia-sia belaka, tetap saja dia tidak menjumpai kudanya. Si Musafir kebingungan karena dia berada di tengah-tegan lautan pasir. Kemudian dia memutuskan untuk kembali beristirahat ke tempat semula di bawah pohon dan tertidurlah dia. Setelah beberapa saat bangunlah dia dan betapa bahagianya dia menjumpai kuda yang dia cari-cari sampai kelelahan tiba-tida ada di hadapannya dengan perbekalan yang masih utuh. Saking gembiranya berkatalah dia tanpa sadar: "Segala puji bagi-Mu ya Allah, Engkaulah hambaku dan aku adalah tuhan-Mu". Kegembiraan yang terlalu sehingga dia tidak sadar dengan kesalahan yang ia ucapkan. 

Kita bisa membayangkan dan memaklumi bagaimana kegembiraan yang dia rasakan sehingga salah berucap. Ketahuilah kawan, sungguh kegembiraan Allah kepada orang yang bertaubat melebihi kegimbiraan orang dalam cerita tadi. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Nabi dalam suatu haditsnya yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:
لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلَى رَاحِلَتِهِ بِأَرْضِ فَلاَةٍ فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ فَأَيِسَ مِنْهَا فَأَتَى شَجَرَةً فَاضْطَجَعَ فِى ظِلِّهَا قَدْ أَيِسَ مِنْ رَاحِلَتِهِ فَبَيْنَا هُوَ كَذَلِكَ إِذَا هُوَ بِهَا قَائِمَةً عِنْدَهُ فَأَخَذَ بِخِطَامِهَا ثُمَّ قَالَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ اللَّهُمَّ أَنْتَ عَبْدِى وَأَنَا رَبُّكَ.أَخْطَأَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ
Tentu dengan hadits ini saya kembangkan dengan narasi cerita diatas kita baru bisa menggambarkan betapa bahagaianya Allah terhadap hamba-hamba telah berlumur dosa lalu kembali kepada-Nya. 
Seberapa besar dan lamanya seorang hamba bergelimang dalam jurang kemaksiatan, sungguh ampunan Allah lebih luas dan besar selama nyawa belum sampai tenggorokan dan matahari belum terbit dari tempat tenggelamnya, pintu taubat selalu terbuka luas bagi hamba-hamba-Nya.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Manusia Dan Kebutuhannya Terhadap Agama